Wednesday, January 11, 2012

Penulis Bisa Jadi Gila?

Sepertinya bisa!

Pertengahan november lalu, setelah buku pertama Memburu Fatamorgana diterima oleh Asosiasi Pasar Malam untuk diterbitkan kedalam bahasa Prancis, mood nulis saya langsung meroket. Beneran roket. Cepat, berkekuatan penuh dan nggak bisa dibendung. Jadilah draft buku kedua saya, dan yang pertama bakal solo, kembali berputar dikepala saya. Para tokoh-tokoh yang pernah saya ciptakan muncul, pemikiran tentang alur, cara bertutur dan segala yang berhubungan dengan teknis penulisan serabutan minta tempat dikepala saya yang diameternya nggak seberapa ini. Siang. Malam.

Kalau siang, begitu ada waktu kosong setengah jam saja, saya langsung lari ke notebook. Dan bila sedang tidak memungkinkan, pikiran itu menderu-deru. Gelisah sekali. Setiap nulis memberikan perasaan lega. Betul-betul macam orang yang butuh katarsis. Memasuki minggu kedua, diatas kepala saya seperti terbentuk sebuah bola dunia lengkap dengan berbagai tokoh yang cerewetnya minta ampun. Ajeng, Olivier, Quentin, Alain, Celine etc. Diantara percakapan mereka, kadang seperti ada lintasan narasi yang bilang 'eh mending, bagian ini ditaruh disini. oya, karakter si Ajeng kayaknya nggak cocok jadi impulsif. Nah, soal pantai bugil, belum lengkap tuh penjelasannya' dan berbagai hal detail yang nggak ada habisnya. Saya mulai merasakan sindrom trance atau apa deh gitu, dimana saya kehilangan atas kontrol diri sendiri. Alam berpikir saya diambil alih... Celakanya, semua itu merusak konsentrasi keseharian. Kalau diajak ngomong kadang, suara lawan bicara timbul tengelam. Belum lagi pas lagi pegang setir. Bo! saya lagi ambil pelajaran nyetir yang ongkosnya 53€ perjam!

Kalau malam, sering terbangun dipagi hari dan sulit untuk tidur lagi. Langsung deh, si dunia bulat bundar menguasai saya lagi. Sebagai efek, saya merasakan kebenaran dari cerita Paulo Coelho dalam bukunya Zahir. Dia bilang "Buku itu menulis sendiri, penulis tinggal mengetikkan kata-katanya". Begitulah saya didepan notebook. Rasanya saya nggak perlu mikir lagi, justru seperti melepaskan beban pikiran. Kalau dari efektitas, saya cinta kondisi tripping ini. Kebayang saja, waktu-waktu dimana saya ingin ngetik tapi justru bengong didepan keyboard, sampai-sampai harus mencari pembenaran seperti istilah Writer block or something.. jadi nggak heran, hanya dalam 1.5 bulan, draft saya sudah membengkak lebih dari 100 halaman hvs.

Saya bertanya apakah itu bayaran efektitas menulis sehingga penulis seolah tidak menjejak? Apakah rata-rata penulis seperti itu? Gejala yang saya alami ini normal atau tidak? Suami saya pernah bilang bahwa ada penulis yang bisa rutin nulis setiap hari 2.000 kata (iri sekali saya dengan orang itu!). Lalu, saya juga sempat teringat kata seorang penulis yang bilang, jadi penulis itu beresiko tidak memijak pada dunia realitas. Yang ekstrim, mungkin penulis Ingris Virginia Wolf yang selalu mencoba bunuh diri setiap menulis buku. Dulu, saya heran mengetahui fakta ini. Tapi setelah bulan-bulan itu.. hmm, kalau diteruskan sepertinya masuk akal juga.

Dalam kasus saya, pemecahannya mudah saja: benturan realitas. Akhir Desember, saya disadarkan akan target untuk mengikuti suatu ujian masuk suatu sekolah kejuruan yang saya incar. Bulan Maret ini. Setelah memeriksa bahan ujiannya, ya ampun, banyak sekali yang belum dipelajari! Panik yang melanda mengiring saya untuk memilih realitis dulu. Maka seminggu kemudian adalah masa-masa berat, membunuh dunia bundar diatas kepala. Notebook betul-betul saya simpan dilemari (meski sesekali saya nggak tahan buka juga, tapi biasanya berhenti setelah ditegur suami). Saya harus nyetir dulu, ujian dulu.

Saya belum siap jadi gila. Belum sekarang ini...

Thursday, November 17, 2011

Exposition Louis Vitton & Masa Lalu

24 Juni - 25 Oktober. 60 rue de Bassano, Paris 8è
http://www.espacelouisvuitton-paris.com/index_FR.html
Pameran seni ttg Indonesia yang banyak berkisah soal gunung Semeru.


Pameran ini sebenarnya sudah saya intai beberapa bulan lalu tetapi dgn adanya liburan panjang, jadi terlupakan. Dan kagetlah saya ketika melihat ulasannya di salah satu majalah Express. Apalagi foto yg dipajang di situ adalah karya dari orang yang saya kenal (meski dijamin dia udah nggak kenal saya): Heri Dono or Dono Heri (kalo pake aturan Nom-Prenom ala Prancis). Boneka-boneka bertampang campuran ektrateres dicampur dengan wayang golek, begitu pernah dekat dengan saya.

Gimana nggak dekat? Dulu saya pernah tidur disamping boneka-boneka ajaib itu, pas di suatu masa yang lalu-dulu-banget, saya berkali-kali menginap di rumah Heridono yang ajaib. Setiap anak kecil yang masuk dijamin nangis karena gantungan di plafon adalah dendeng kering dari usus, jeroan dll, plus lukisan, patung dengan gantungan debu yang bergoyang indah kalo ditiup angin. Tidak ada tipi, jamnya mati diangka 7. Katanya angka ini pas, kalo bangun kesiangan belum tengah hari kalo malem nggak larut banget. Sebetulnya, saya bisa disitu karena diajak sahabat saya, yg 'keponakan kesayangan' sang seniman. Penyambutan pertama yg selalu saya ingat adalahi "Lo tidur di kamar yang ini aja Wun, HANTUNYA nggak terlalu ganas. Kalo dikamar lain, lo bisa ditarik-tarik dan dicubit-cubit sampe bangun". Huaa! . Pokoknya "wangi" rumahnya nggak bakal saya lupa.

Sejujurnya, banyak hal yg nggak terlupa. Dimulai dari persohiban saya dengan keponakan emasnya itu, dan kemudian merempet ke gerombolan teman-temannya, yg cuma 5-6 orang saja. Mereka adalah gerombolan manusia yang jiwa nyeninya membuat kita kehilangan antara batas waras dan nggak waras. Misalnya, ada satu orang yang tahan nggak mandi berbulan-bulan krn ngambek nilai ujiannya jelek. Dia bau juga nggak terlalu. Atau yang disebut keren dan fashionable adalah rambut rasta yang kramasnya berminggu-minggu sekali, itupun paling efektif pakai air laut. Dan cerita yg nggak bakal saya lupa, ketika mereka bercerita dengan seru soal perlombaan berbusana yg paling "yahud", dimenangkan oleh seorang yg hari itu, pakai t-shirt, celana jeans. Dari depan normal, tetapi ketika dia berdiri, tyt celana bagian belakang bolong, jd pantatnya bisa kelihatan utuh! atau cerita jendela kampus mereka yang bolong, sehingga saat hujan, ada yg memanfaatkan dgn bercuci muka pakai sabun dr dalam kelas. Dalam keseharian, berada seminggu bersama mereka, merupakan obat yang paling manjur dari segala obat antidepresi. Kami bangun nggak pernah lebih pagi dari jam 9. Salah satu akan beli nasi pucuk, lalu makan di teras, sambil menerawang jauh. Kemudian mandi yg bak airnya jernih (tp didasarnya ada sikat gigi, sabun, dan entah barang-barang apalagi). Kemudian, tidak ada yang rutin. Kadang saya diajak keliling naik motor yang tiap 20 menit mogok dan harus diganti gusi. Kadang hanya belanja kecil ke pasar tradisional. Kadang malas bergerak tapi ingin nyemil, kami memetik daun bayam liar dan mengorengnya dengan tepung. Dan banyak kegiatan lain yang sudah saya lupa, tapi kenangan itu tetap ada: Keindahan dalam kesederhanaan hidup.

--bbrp minggu kemudian: sayang nggak bisa dateng hiks hiks

Thursday, October 6, 2011

Teman Imaginer atau Makhluk halus?

Dimanakah hubungan antara ilmu pengetahuan dan kepercayaan supersitius untuk sebuah fenomena yang sama? Saya bukanlah yang kompeten untuk membahas masalah ini secara detail tetapi saya MERASAKAN pengaruh keduanya. Tarik-tarikan, ngotot-ngototan.

Nah, fenomena keterhubungan dua sudut pandang itu, sedang berlaku pada anak saya. Dia memiliki "seseorang". Saat seorang anak kecil digambarkan bisa melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata orang dewasa. Dunia pengetahuan menyebutnya sebagai Teman Imaginer, Imaginary friends or Amie Imaginier. Biasanya terjadi pada anak usia infant s/d 5 tahun dan beberapa yg berlanjut sampai remaja (meski semakin bertambah umur, adanya imaginer friend ini kadang dikaitkan dgn adanya masalah sosial). Sosok ini, begitu nyata bagi pembuatnya, bernyawa dan hidup. Diajak bicara, ditegur, disenyumi, diajak main, disuruh genjot sepeda dan bahkan biasanya mereka punya nama. Kebutuhan atas kehadiran mereka didorong oleh alam imaginasi anak yang sedang meluber. Adanya sosok ini bisa menjadi partner bagi anak, di saat kesepian, disaat sedang tidak percaya diri dan pokoknya bisa membantu mereka memahami dunia orang dewasa. Bahkan ada studi dari seorang mahasiswa master di Manchester University yang menyebutkan bahwa adanya teman imaginer ini justru mempercepat pertumbuhan intelegensi anak, dimana anak mengembangkan kosakata yg tidak dipelajarinya dari teman sepermainan. Meskipun ada ahli yang menyatakan bahwa tidak semua anak pintar punya teman imaginer. Pendeknya, TIDAK ADA yang perlu ditakutkan.

Si Teman ini, dipanggil Matheo sebagai POCOYO. Saya langsung membayangkan sosoknya seperti tokoh kartun lucu imut-imut:

Tetapi, sekali lagi, sisi ke-Indonesiaan saya yang sudah mengakar, secara ngotot, membuat saya teringat pandangan seperti "anak kecil biasanya bisa lihat makhluk halus", "Jiwa mereka murni jd yg bisa lihat cuma mereka" dan lainnya. Intinya, sosok imaginer tersebut berubah menjadi makhluk halus or hantu or setan or badut (sebutan salah satu teman saya setiap kl anaknya ngobrol dgn sosok invisible ini). Dan masalahnya, bagi org dewasa, makhluk halus adalah sosok yg menyeramkan. Saya nggak pernah percaya keberadaannya 100% persen, tp kalau nggak percaya total pun, kita harus pura-pura percaya, kalau tidak mau dikasih 'penampakan'. Jadilah si sosok imut POCOYO BERUBAH MENJADI..


POCONG ! HIIII !

Maka setiap kali Matheo berbicara secara misterius ke arah ruang kosong, tp matanya fokus ke suatu titik. Segala pengetahuan dan kepercayaan primitif saya bergejolak hebat. Sampai suatu h ari (yg untungnya periode Matheo ini cuma 3 mingguan), Kami pulang dari perpustakaan anak, lalu di depan pintu rumah Matheo berkata.

"Mama, ini ada Pocoyo mau main. Bonjour Pocoyo! Kamu mau main ke rumah kan?"
"Halo Pocoyo" Mamanya, sambil jiper tapi berakting sok santai, ikut menegur ke arah kosong yg sama
"Mama, Pocoyo boleh ya ikut kita"
.... Mama .... Perang... Batin... - Ayo kita dorong perkembangan kognitif anak - - Lo mau biarin masuk tuh Pocong? - - Itu bukan pocong, tp teman imaginer - - Iya, Pocong yang namanya Pocoyo - -Pocong nggak ada di Prancis - -Mungkin dia lagi travelling - dsb dsb

.... akhirnya ...

Mama: "Pocoyo, tadi mama kamu bilang kalau kamu musti pulang karena sudah waktunya gouter/ngemil. Ayo sana ya pulang. Lain kali saja"
Matheo : "D'accord. Ya sudah. sana kamu pulang Pocoyo"

Sejak itu, si Pocoyo nggak nongol lagi. Mamanya lega dehhhhhhhhhhhhhhh ! urusan pengembangan anak, kita cari cara lain saja :-D

Tuesday, May 10, 2011

CATATAN MUDIK DI RUMAH

Catatan ini sudah saya buat berbulan lalu, tetapi sempat hilang dan terselip. Sebuah pengalaman selama dua bulan di Indonesia 2010, dalam kerangka pulang kampung dua tahun sekali.

--
Pelaku pertama yang langsung membuat saya sadar di Indonesia adalah Pembantu.

Mereka salah satu yang paling saya rindukan selama tinggal di Prancis. Hidup jadi upik abu itu gimanapun juga berat oi! Tangan kapalan, pundak pegal pegal, otot bermunculan, mah sudah pasti. Tapi disisi lain, kami jadi terbiasa kerja keras. Nah di jakarta ini, sampai di rumah orang tua, saya langsung dikerubuti dua orang pembantu, yg satu membawakan tas, yang lainnya menawari minuman. 'Es teh manis ya' lalu saya duduk. Dan kemudian bapak datang, ngobrol, setengah jam kemudian, masih duduk, dan 2 jam kemudian tetap dalam kondisi duduk. Pembicaraan mulai habis. Saya melihat kiri kanan. Kalau di rumah di Prancis pasti waktu 2 jam itu sudah harus dipakai untuk cuci baju, mengibaskan debu, menyapu dan mungkin memotong bunga mati dikebun. Saya perlahan mulai sadar, oh iya, jadi majikan di Indonesia kan tugasnya memang duduk saja. Kalau bergerak sedikit, para pembantu akan gusar seolah merasa tidak dibutuhkan.

Gila, seharian duduk. Apa sanggup ya? Apa nggak mati bosen nih.
Ohya , nonton tivi. Tapi kalau acaranya nggak enak, duduk juga?
Berbagai tanya jawab berlangsung di kepala saya.

Kemudian waktu makan tiba. Piring sudah disediakan, tinggal menyendok nasi. Hangat pula! Sungguh suatu kemewahan liburan, kalau sehari hari, mana mungkin bisa begini, mau makan ya masak dulu. Mau bubur ayam? Baru siap di mangkok pas rasa lapar udah ngabur jauh jauh.

Selama di meja makan, berbagai drama terjadi: adik saya berteriak minta sendok kecil, bapak saya ribut makanannya kurang hangat, anak saya sibuk mau disuapi. Saya bengong. Sudah nggak terbiasa rupanya. Saat saya berdiri, ada pembantu yang menanyai 'cari apa mbak?' 'ini sendok sayur' 'iya mbak, aku ambilkan' saya mulai senyum, kapan lagi merasa kalau bergerak 10 meter menjadi dosa besar?

Beberapa hari kemudian, saat saya ikut les membuat kue, sang guru pernah berteriak teriak.

« Lita!!! Kesini » begitu berulang selama 7 menit karena sang pembantunya belum muncul juga

'Kemana sih thu orang' omelnya lagi

saya sempat berpikir kalau dia perlu sesuatu yang super penting, seperti minta diangkatkan koper 25 kg misalnya.

Akhirnya saat pembantunya muncul, saya tau alasan misuh misuhnya

'Tolong ambilin air es di kulkas, buat campuran adonan!'

Oalah! Emang bener sih jarak kulkas ke tempat dia duduk beneran krusial: 10 meter!

Gimana kalau dia jadi saya ya, yang hampir tiap hari menghabiskan waktu 30 menit buat jalan, beli roti, kadang ke kantor pos. Lah disini nggak ada pembantu yang tinggal teriak gitu. Padahal, sesungguhnya yang dilakukan teman saya itu hanyalah menghindari dosa besar tadi.

Tapi akhirnya saya sampai pada penemuan paling keren di mudik kali ini: Pembantu juga punya Hierarki!

Yang saya temui (baca: urutan disusun atas derajat kekuasaan):
Kepala pembantu
Pembantu biasa
Pembantu tambahan (ini khusus disediakan untuk menyambut kedatangan saya, kata adik saya yang berbaik hati, supaya anak saya bisa dijaga mereka)

Hierarki ini ternyata beneran berjalan sempurna. Suatu kali saya mengomel karena ada kotoran anjing lupa dibersihkan di lantai

'Desi, ini coba dibersihin dong. Kalau bau banget begini, ntar Matheo ijek bagaimana?' sambil bilang begini, saya sambil tersenyum dalam hati 'hehe here i'am. My old days come back'

'iya mbak, saya pel segera' si Desi bogel tergopoh gopoh seperti baru ketangkap menilap jambu biji tetangga.

Yang terjadi kemudian ternyata adalah si Desi yang jabatan Pembantu biasa ini diomeli mbak Dini yang berpangkat Kepala pembantu 'elo sih Des JOROK!'

Mungkin nggak terima dikata katai tapi kurang kuasaan untuk membalas, dia memanggil si Pembantu tambahan yang masih merupakan saudara jauhnya. Teriakannya lebih keras dari pada teguran saya kepadanya.

'Bii Parmi! Gih pel ini lantai! Panggil sekalian si Entin (anaknya yang suka ikut nongkrong emaknya). Pake ember aja, sama kasih pembersih lantai yang banyak, biar kagak bau! AYO CEPETAN! Jangan diem aje! ELO JUGA NTIN, PLONGAK PLONGOK MELULU!'

Saya yang menyaksikan semua terkikik geli sendiri. Ternyata pembantu di Indonesia ternyata menyimpan potensi menjadi bos. Luar biasa!

Saya langsung membatin, andaikata mereka bisa membayangkan bagaimana hidup saya disini, pasti mereka akan protes dalam hati 'mbak mbak, sama sama pembantu aja pake kasih perintah segala'

Kehidupan kantor yang ada di dalam kehidupan para pembantu, diperkuat dengan obrolan para majikan yang notebene sekarang merupakan sebagaian besar kehidupan para teman saya.

Pembantu gue pada berantem
Pembantu gue iri irian.
Pembantu gue nggak rukun sama supir gue

dan berbagai intrik dasyat lainnya

Sambil hanya bisa mendengarkan dan nggak kuasa nimbrung, saya sekali lagi membatin. Punya pembantu atau jadi pembantu, sama repotnya sama ribetnya

CATATAN MUDIK DI LUAR RUMAH

Catatan ini sudah saya buat berbulan-bulan lalu, tetapi sempat hilang dan terselip. Sebuah pengalaman selama dua bulan di Indonesia 2010, dalam kerangka pulang kampung dua tahun sekali.

--
Saat pulang kampung merupakan masa bernostalgia. Berada dan bernafas di tempat kita dibesarkan. Pelepas rindu semua hal yang sering dirasa kehilangan selama tinggal di negeri orang. Namun yang mengherankan, beberapa hal terasa berubah. Mungkin memang begitu adanya atau kacamata saya lah yang telah bergeser. Mau tak mau, saya berubah menjadi « mentang mentang, tinggal di luar negeri! » aie!



Tinggal di Paris, manusia banyak, itu pasti. Penduduknya berjumlah 2 juta jiwa minus turis. Namun angka ini menjadi tak berarti bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 22 juta nyawa padahal luas daerah yang ditempati pun tidak jauh berbeda. Maka tak heran, di Indonesia level penunjang hidup seakan 'tertangani dengan baik', terutama dalam hal service.

DI JALAN
Menyeberang jalan merupakan momen yang menegangkan dalam keseharian di tanah air. Di mata saya motor yang lalu lalang bagai gerombolan lebah yang siap menyerang. Padahal dulu saya adalah bodyguart teman-teman perempuan dan berjalan di sisi kanan setiap kali melintas jalanan.

Saya juga disambut pangilan mesra para tukang ojek. Bosan dengan macet di dalam taksi, saya memang akhirnya balik jadi pelanggan sementara mas ojek. Dan semua berulang seperti berada dalam drama komedi. Pak ojek mencari helm pinjaman dulu, melintas jemuran orang, melalui jalan setapak di dalam kuburan, menyalip kiri kanan dan menakuti orang yang hendak menyebrang. Service tak jarang diberikan dengan melanggar rambu lalu lintas demi mengantarkan saya ke tempat yang hendak di capai. Belum lagi tambahan bonus wanginya helm mereka di kepala. Alamak!

DI SALON
Untuk urusan pelayanan kecantikan. That's the best thing ever! Potong rambut, pijat, creambath, manicure dan pedicure tinggal pilih, harga terjangkau. Ketahuilah, di salon negeri Eropa, anda tak kurang harus membayar berlipat-lipat. Dan juga service macam creambath tidak ada. Pijat biasanya hanya tersedia di tempat khusus yang punya nama khusus pula 'Espece Detendre' alias tempat rileksasi dengan tarif sejamnya sekitar 60-80 euros! Maka agenda pergi ke salon memang merupakan hal yang mutlak bila pulang kampung. Dan saya akan sengaja memesan semua service itu sehingga saya akan dikerubungi orang yang sedang melayani saya. Menjadi ratu dua tiga jam!

DI RESTORAN
Begitu langkah kaki mendekati sebuah restoran, pintu biasanya sudah langsung terbuka. Bukan otomatis tetapi karena ada seseorang yang membukakan pintu. Pelayan banyak dengan moto kerja 'kepuasaan klien adalah yang utama'. Telinga saya serasa harus beradaptasi ulang terhadap kalimat semacam:

« Mbak, Mbak. Minta menunya dong »
semenit kemudian
« Pesen ini itu, NGGAK PAKE LAMA »
15 menit kemudian
« Kok nggak keluar keluar pesenan kami. Nggak LUPA KAN?! »
« Meja samping malah udah duluan dapat. GIMANA SIH! »

Bandingkan dengan di Prancis sini, kita sering harus bersabar menunggu bahkan pernah sampai 30 menit untuk sekedar didatangi pelayan. Bukankah kalimat diatas menjadi baru lagi?

Ingatan saya bolak balik ke masa bulan-bulan pertama saya hidup di Prancis. Duluu, suami saya harus mengusap-usap pundak saya karena muka saya selalu saja menjadi merah padam dan bibir saya sudah mau berteriak. Gimana tidak, pelayan yang jumlahnya sedikit itu lah yang raja. Bukan klien. Kita tidak boleh inisiatif memanggil mereka, sebelum mereka yang menghampiri kita dan berkata 'Bonjour'. Kemudian setiap mau pesan sesuatu, tentunya menunggu mereka menghampiri meja kita, yang artinya bisa sampai berpuluh puluh menit, karena tidak jarang mereka mementingkan membersihkan meja yang kotor dulu agar bisa diduduki lagi. Kata suami saya karena disini tenaga kerja mahal plus pajak.

Pernah juga saya dan teman saya, dipelototi beberapa pengunjung karena lupa menaruh nampan dan membuang sisa makanan ke tong sampah. Gimana tidak, di Indonesia kan pelayan siap membungkuskan sisa makanan kita dengan dalil 'buat anjing di rumah' atau 'sayang masih banyak'


DI TOKO
Gila ya! Sebenarnya konsep pelayanan yang sempurna tuh ya yang ada di Asia. Klien langsung dihampiri, ditawari butuh informasi apa. Begitu memilih juga ada yang menemani. Dan bawaan kita langsung di jinjingi oleh mereka. Serasa seperti raja.

Saya sempat dibikin takjub oleh pelayanan salah satu toko mainan -yg mungkin nggak ada anehnya buat pribadi saya yang dulu – Mainan pilihan yang beratnya nggak lebih dari 500 gr, dibawakan satu mbak yang jaga. Kami berjalan sekitar 2 meter, sampai kemudian ada satu orang yang berkata kepada pelayan tadi

« Sini Mbak, saya bawain » dan mainan pun berpindah tangan.
Saya pikir kasirnya bakalan berada di terminal lain yang jauhnya kayak terminal A ke C di bandara Sukarno Hatta, tetapi ternyata kami sampai setelah melangkah lagi sekitar 3 meter! Haha. Lega hati saya, akhirnya kami sampai ke kasir!

--
Begitulah seterusnya. Kemudian di akhir bulan kedua, saya sudah mulai terbiasa dengan segala pelayanan ini, sampailah saya dan anak saya di bandara Charles de Gaulle, Paris. Saat itu, anak saya kelihatan butuh cemilan, jadi kami mampir dulu ke sebuah Patiserrie. Pelayannya ada dua, yang satu ngobrol dengan salah seorang klien, yang satunya ikut nimbrung. Mereka pasti menyadari kedatangan kami karena hanya kami dan klien itu yang ada disitu. Tapi mereka terus mengobrol, meski saya sudah berkata 'Bonjour' -tidak tahan menunggu ditegur dulu. Akhirnya ketika mereka melayani kami setelah kami bengong selama 5 menit, saya hanya bisa membatin 'WELCOME HOME!'

Monday, April 25, 2011

Midnigth Visit

Ibuku terkesan orangnya tidak perduli. Tapi menurutku dialah orang yang paling tajam indranya pada anak anaknya. aku yakin, sampai akhir hayatnya akan begitu.

¤
Saat aku kelas 5 SD, hanya dari sedikit gerakanku, dia tahu aku mens yang pertama.

Kelas 2 SMP, hanya dari pipiku yang merona dan senyum yang lebih lebar dari biasanya, dia tahu aku punya cinta monyet.

Namun dia hanya sekali menegurku karena menyontek. Itupun di duga hanya dari perilakuku yang cemas setelah pulang ujian.

¤
Kini aku sedang berpandangan mesra dan bibir pacarku sebentar lagi mendarat di bibirku. Kami hanya sendiri di ruang tamu ini. Semua orang sedang pergi. Tanteku menginap ke rumah adiknya untuk berbagi kesedihan atas meninggalnya ibuku 3 minggu lalu.

Tiba-tiba, listrik mati. Gelap. Saat tangan pacarku hendak mengerayangi tubuhku yang sejak tadi sudah takluk, terdengar bunyi keras sekali. Pompa air meraung menstarterkan diri. Pompa yang hanya bekerja bila ada listrik. Aku tersadar, ku jauhkan tubuh pacarku.

Itu pasti ibuku!

Rupanya keyakinanku salah. Dia tidak hanya mengawasi sampai akhir hayat melainkan setelahnya juga. Hanya satu tanyaku: Bagaimana dia bisa tahu pacarku adalah suami orang?

Saturday, April 16, 2011

Karakter Bocahku di 3,8 thn

Usia 3 tahun 10 bulan sepertinya sudah mulai bisa diamati karakter si Matheo. Terutama karena sekitar 2 bulan lalu, dia mulai menerima laporan evaluasi dari guru di sekolahnya. Yang menarik disitu adalah: pemalu dan pelajar serius.

Pemalu. Saya nggak terlalu heran. Kelihatannya ini menurun dari sang ayah, bagaimanapun sang emak mengakui bahwa pribadinya lebih cenderung malu-maluin-tapi-mengemaskan. Bila dipaksakan statistik, maka Matheo 60% papa dan 40% mama. Selain pemalu itu, dia cenderung soliter dan senang menyendiri. kalau banyak anak lain, dia nggak ikut main malah dipinggir mengamati saja. Persis babenye! Tapi kemudian 40% adalah dari si emak, bahwa dia nggak suka sendirian. Makanya biar anak lain segambreng, kl tidak ada yang menarik hatinya, maka sang emak masih saja menjadi objek perbudakan. Musti temenin dia main. Oh Mon Dieu (sama arti dengan Oh My God. Kan di Prancis hehe)

Pribadi bapaknya yang lain adalah bersih banget. Kalo makan misalnya, ada satu tetes coklat yang jatuh ke tatakan makannya, harus dilap dulu, baru dia mau lanjutin makan. Kalo mau pipis or ngebom, ada tissu di dalam toilet harus di splash dulu. Sering kali emaknya berusaha membuat kearah santai, kan kotor itu bagian dari belajar. Eh sejujurnya, lebih karena malas lah ya, jadi tambah kerjaan aja! Tapi bo! Doski kagak mau, kekeh harus bersih dulu... OMD (dari Oh Mon Dieu!)

Berikutnya yaitu kalem dan sabar meski ada masanya dia ngomong nggak berhenti. Setiap kali di tempat bermain yang banyak anak, misalnya taman yang ada prosotannya atau manjat-manjat. Matheo selalu menunggu sampai yang mau dikerjakan, tempatnya kosong dulu. Jadi dia rela saja gitu dilewatin bahkan disalip sama anak anak lain sampai 7-8 anak! Gimana emaknya yang jadi nggak sabaran tuh! Cuma kalau dideketi dan diberi wejangan yang berguna macam "Nak jangan ngalah terus dong, kamu maju juga, jangan mau dilewati terus!" maka dia akan menjawab dengan kalem "Mama, kamu duduk saja di sana" ... OMD!

Tapi secara umum, Matheo itu anak yang manis. Banyak senyum kecuali dia belum selalu menjawab basa basi macam bonjour dll. Bisa anteng kalo di tempat orang. Nggak pernah ngamuk kalo minta sesuatu nggak diturut di tempat umum. Nggak bandel sama anak lain. Lahhh bandel dari mane! Lha Wong dia yang dibandelin anak mulu. Paling kalau dipukul atau didorong anak lain, Matheo cuma protes "eh, ça fait mal! Sakit!" Udah. Jadi agendanya, setahun lagi dia harus dimasukin ilmu bela diri macam Judo (Prancis juara dunia lho ;-P) atau Aikido. Pokoknya anak saya harus bisa bertahan di dunia yang keras dan kejam. Cie. .. OMDnya absen dulu.

Dan secara khusus, ada satu hal yang menarik pengamatan saya nih: selera homurnya Matheo. Entah, apakah ini presentasinya banyak di ayahnya atau di emaknya. Saya perlu pendapat orang lain sepertinya... Matheo kalau lihat anak lain nangis keras karena jatuh dan nakal atau dimarahi orang tua mereka, dia malah senyum-senyum. Weekend kemaren, kami menginap di rumah teman ayahnya. Di sana ada satu anak yang dimarahi habis-habisan karena memukul anak lain. Matheo langsung jalan lewat-lewat gitu sambil berkata "Matheo, il est gentil! Matheo, anak baik" Berkali-kali. Coba deh tuh!. Juga sekali pernah, salah satu anak (katakan namanya Sasa) berantem dengan anak lain (katakan namanya Didi). Sasa belain Matheo karena Didi mengambil karet gelang yang seharusnya milik Matheo. Jadilah Sasa dan Didi dimarahi orang tua masing masing, saat berantem mereka mulai teriak-teriakan. Selama mereka berantem, Matheo asik aja diam dan memperhatikan. Tapi begitu si Sasa dan Didi dimarahi orang tua mereka, maka si Matheo sambil mengambil gelang ditaruh dibelakang punggungnya, Dia senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala! ... OMD. OMG.

Humor anak gue ini termasuk apa ya: humor khas anak kecil, humor gelap atau sarkas ya? .. Tapi percayalah, Matheo tetep anak imuttt dan penuh chinchaaa.. *ibu-ibu tuh L3B4Y secara alamiah*